/home/ivaa/library.ivaa-online.org/lib/SearchEngine/DefaultEngine.php:624 "Search Engine Debug 🔎 🪲"
Engine Type ⚙️: "SLiMS\SearchEngine\DefaultEngine"
SQL ⚙️: array:2 [ "count" => "select count(b.biblio_id) from biblio as b where b.opac_hide=0 and (b.biblio_id in(select ba.biblio_id from biblio_author as ba left join mst_author as ma on ba.author_id=ma.author_id where ma.author_name like ?))" "query" => "select b.biblio_id, b.title, b.image, b.isbn_issn, b.publish_year, mp.publisher_name as `publisher`, mpl.place_name as `publish_place`, b.labels, b.input_date, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id where b.opac_hide=0 and (b.biblio_id in(select ba.biblio_id from biblio_author as ba left join mst_author as ma on ba.author_id=ma.author_id where ma.author_name like ?)) order by b.last_update desc limit 10 offset 0" ]
Bind Value ⚒️: array:1 [ 0 => "%Pandhu%" ]
Reformasi dan Pendidikan Seni memang bukan hal baru, baik sebagai materi ulasan Majalah Gong, maupun keberadaannya di negeri ini. Sajian pendidikan seni memiliki kaitan untuk memperjuangkan pelaksanaannya. Edisi majalah ini menghadirkan beragam topik seputaran pendidikan seni, mulai dari isu-isu mutakhir hingga kasus (proses belajar mengajar pendidikan seni), artikel penulis luar (praktisi/peng…
Tembang Macapatan sebagai tradisi tesktual Jawa berkembang dalam transmisi tradisi tulis (literal) namun disampaikan secara oral. Majalah ini juga menyajikan keindahan magis bermacam seni pertunjukkan yang berada di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Bukit Menoreh di Jawa, dipresentasikan secara memukau oleh penggiat seni, Sutanto, dalam Festival Seni Lima Gunung.
Sisingaan adalah salah satu contoh jenis kesenian yang dipresentasikan secara arak-arakan. Kemeriahan sisingaan lantaran jalinan pertunjukan terintregasi dengan keseluruhan aspek pesta ; sebagai hiburan sekaligus dengan memiliki fungsi sosialnya sebagai pelengkap ritus inisiasi (khitanan).
Edisi ini GONG menyuguhkan dinamika baru dari segi material rubrikasi maupun hal yang lain. Edisi ini menjadi pelengkap pada edisi GONG sebelumnya yang meliput mengenai Festival Budaya Nusantara Yang terangkai dalam empat agenda, sejak di Bali hingga di Jakarta.
GONG edisi ini membahas mengenai manajemen dalam seni pertunjukkan tradisional. Manajemen modern dianggap tidak pas dalam pengelaan seni pertunjukkan tradisional. Pengelolaan yang bersifat fleksibe dinilai lebih cocok untuk digunakan agar dalam prakteknya mampu memunculkan ketradisionalitasnya masing-masing.
Wacana tentang komunikasi dalam seni pertunjukan sering luput dari perbincangan. Sebuah seni pertunjukan, gamelan, sudah semestinya mengandung pesan (nilai) yang terkandung dalam teks atau gending yang dilantumkan. Pokok-pokok pikiran tentang komunikasi musiik yang disampaikan Dr. Santosa, S. Kar, M. Mus, menjadi sorotan dalam edisi kali ini.
Seni pertunjukan (tradisi) hanya menempati "faktor pendukung produksi", dan bukan "partner" dalam industri pariwisata. Sekedar "atraksi" di antara aset besar yang dijual dalam bisnis pariwisata-hotel , biro wisata, resto, sarana transportasi. Tapi mengapa di tengah teriak seru pariwisata sebagai pemasok andalan devisa negara dan jargon indah seni budaya sebagai faktor penting pariwisata Indones…
Inilah makna progresi musik awal milenium ini. Satu dunia, satu "musik dunia", menyertai fenomena global-paradoks industri musik dunia. Lokalitas adalah samudera keuntungan. Maka, diliriklah kebudayaan-kebudayaan etnis dunia. Diciptakan trend etnisisme. Dimunculkan image eksotisme lokal. Dikembangkan mimpi-mimpi tentang kesadaran bangsa-bangsa.
Dikenal sejak jaman Kerajaan Jenggala (abad XII), goyang kerakyatan subur, sampai memunculkan generasi tledek dan janggrunganjaman Demak (abad XV). Sementara, dari istana berkembang gambyong yang akomodatif, menerima tari kerakyatan tersebut sebagai pertunjukan yang disebut Tayub.
Ketika orang "turun ke jalan" yang mau diberjalankan bukan fisik, melainkan suara-nya. Kini, suara yang keras adalah antara yang mendukung dan yang anti RUUAP. Keduanya kedengeran sama kuat, memekakkan telinga, menggetarkan, dan menggetirkan. Yang PRO berdalih moralitas (keagamaan) sedangkan yang KONTRA berdalih hak asasi manusia